Awal pembuatan proposal program PKM – T menjadi awal
perjuangan tim dalam menjalankan program ini. Banyak pertanyaan yang masih mengganjal di benak kami. Saat proposal
dinyatakan lolos dan didanai, perasaan senang, bingung dan takut bercampur
menjadi satu.
Banyak sekali hal – hal yang belum kami ketahui
mengenai mitra dan keadaan Desa Mulyoharjo. Kondisi ini membuat kami merasa
kebingungan saat ingin melaksanakan rangkaian kegiatan program.
Dari alasan tersebut, kami dan dosen pembimbing
membuat agenda acara FGD (Forum Grup
Discusion). Tujuan dari agenda ini adalah untuk mencari informasi sebanyak
mungkin mengenai hambatan, masalah, potensi dan peluang yang dimiliki pengrajin
dan Desa Mulyoharjo.
Agenda FGD ini diharapkan mampu menjawab semua
pertanyaan kami, sehingga dari sini kami mampu membuat strategi untuk menjalankan
program secara maksimal dan mendapatkan hasil yang baik. Kegiatan ini
dilaksanakan pada 23 Maret 2017 di Balai Desa Mulyoharjo, Jepara dengan mengundang
beberapa pihak yaitu : Petinggi Desa Mulyoharjo dan staf, Ketua RT 03/RW 03,
Ketua RW.03, perwakilan Paguyuban Dewindif, pengrajin ukir pahat Desa
Mulyoharjo, Guru IPA (SD, SMP dan SMA), dan distributor alat peraga edukatif.
Dalam diskusi ini, masing – masing pihak
menyampaikan pendapatnya mengenai beberapa informasi yang ingin kami dapatkan.
Adapun hasil diskusi yang didapatkan yaitu :
1. Jumlah limbah kayu trembesi di Jepara khususnya
Desa Mulyoharjo sangat banyak dan melimpah.
2. Selama ini masyarakat Desa Mulyoharjo hanya
memanfaatkan limbah kayu sebagai bahan bakar pembuatan genting.
3. Pengrajin Desa Mulyoharjo hanya memproduksi
ukiran berupa furniture seperti : hiasan rumah, mebel meja/kursi/almari,
kaligrafi dan ukiran patung.
4. Kayu trembesi jarang digunakan untuk bahan
pembuatan produk furniture karena memiliki pori – pori lebar dan kadar airnya
tinggi. Konsumen juga kurang meminati produk berbahan kayu.
5. Alat peraga sangat bermanfaat dalam media
pembelajaran materi biologi di dalam kelas.
6. Belum pernah ada alat peraga edukatif biologi
yang terbuat dari kayu.
7. Jika program pembuatan alat peraga edukatif ini
berjalan, pengrajin Desa Mulyoharjo dapat mencari alternatif pembuatan produk
selain ornament rumah. Alasannya karena terkadang penjualan produk berupa
furniture juga mengalami kelesuan/ penurunan.
8. Alat peraga edukatif biologi dari limbah kayu
dinilai akan lebih awet dan ramah lingkungan dibandingkan dengan alat peraga
dari resin/ fiber.
9. Pengetahuan pengrajin Desa Mulyoharjo mengenai online marketing sangat rendah. Hanya
beberapa pengrajin yang telah memasarkan produknya melalui internet.
10. Perlu adanya kerjasama dengan pihak - pihak
terkait seperti Dinas Pendidikan Jepara sehingga alat peraga edukatif biologi
nantinya dapat masuk ke sekolah – sekolah di Jepara atau tingkat nasional.
Setelah kegiatan sosialisasi dan Focus Grup
Discussion, agenda lapangan yang akan dilaksanakan oleh tim PKM T adalah
Workshop pelatihan.
Semangat dan salam inovasi!
Komentar
Posting Komentar